KAWRUH UTTAMOPADESA

kawruh uttamopadesa
Uttamopadesa merupakan suatu kerangka filsafat kawruh yang membahas kehidupan manusia, jati diri, Kawruh Sejati, kesadaran batin, serta usaha membentuk kehidupan yang lebih baik melalui laku.

Istilah dan kerangka pemikiran Uttamopadesa dirumuskan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati.

Dalam hal ini Uttamopadesa wajib dipahami berdasarkan gagasan dan rumusan Dhimas Purnomo yang membangunnya sendiri. Ia bukan nama yang diambil dari naskah kuno, bukan ajaran Majapahit, dan bukan bagian dari agama tertentu.

Kemiripan bunyi dengan istilah lain dalam khazanah Nusantara juga tidak otomatis menunjukkan kesamaan asal-usul, makna, maupun kedudukan.

Pengertian Uttamopadesa.
Secara sederhana, Uttamopadesa dapat dipahami sebagai filsafat kawruh yang mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan sekaligus membentuk dirinya menjadi pribadi yang semakin utama.

Pembahasannya tidak hanya diarahkan kepada dunia luar, tetapi juga kepada kehidupan batin manusia.

Manusia perlu mengenali dirinya, memahami sumber panguripan, menyadari cara kerja kesadarannya, serta memahami bagaimana pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan saling memengaruhi.

Karena itu, pembentukan diri manusia sejati menjadi bagian penting dalam Uttamopadesa.

Dalam kerangka ini terdapat tiga daya batin yang sangat penting, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta berkaitan dengan kemampuan berpikir dan memahami. Rasa berkaitan dengan kemampuan menghayati dan merasakan kehidupan. Karsa merupakan kehendak yang mendorong manusia menentukan pilihan dan mewujudkannya dalam tindakan.

Cipta perlu dijaga agar tidak menjadi keruh. Rasa perlu diweningkan agar tidak dikuasai gejolak yang mengganggu keseimbangan. Karsa perlu ditata agar kehendak dapat diwujudkan melalui tindakan yang baik dan selaras dengan kehidupan.

Arti istilah Uttamopadesa.
Istilah Uttamopadesa digunakan untuk menggambarkan gagasan mengenai tuntunan menuju keadaan yang lebih utama. Unsur uttama dapat dipahami sebagai sesuatu yang utama, luhur, atau memiliki kualitas baik, sedangkan upadesa dapat dimaknai sebagai tuntunan, wejangan, atau pengarahan.

Namun, pengertian Uttamopadesa tidak berhenti pada arti harfiah kedua unsur tersebut. Dalam kerangka yang dirumuskan Dhimas Purnomo, Uttamopadesa menunjuk kepada keseluruhan pemikiran dan laku yang mengajak manusia memahami panguripan, mengenali jati diri, menjernihkan kehidupan batin, dan memperbaiki perilaku.

Uttamopadesa Bukan Paramopadesa.
Kemiripan istilah sering menimbulkan anggapan bahwa Uttamopadesa mempunyai hubungan langsung dengan Paramopadesa. Padahal keduanya merupakan istilah yang berbeda.

Paramopadesa dikenal dalam sumber tertentu dalam khazanah sastra dan filsafat Nusantara. Sementara itu, Uttamopadesa merupakan istilah yang dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo untuk menamai kerangka filsafat yang dikembangkannya sendiri.

Karena itu, kemiripan bunyi atau bentuk kata tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa Uttamopadesa berasal dari Paramopadesa.

Pemahaman terhadap Uttamopadesa seharusnya merujuk kepada rumusan, konsep, dan karya-karyanya sendiri.

Landasan Pemikiran Uttamopadesa.
Filsafat Uttamopadesa berangkat dari persoalan tentang panguripan. Panguripan tidak dipandang sebagai sesuatu yang muncul tanpa asal dan sumber keberadaan.

Dalam kerangka ini dikenal gagasan mengenai Sang Sumber Panguripan sebagai asal keberadaan dan Prabhawaning Panguripan sebagai pemahaman mengenai asal serta berlangsungnya kehidupan.

Dari persoalan panguripan, pembahasan kemudian diarahkan kepada manusia.

Manusia perlu mempertanyakan siapa dirinya, apa jati dirinya, bagaimana memperoleh pengetahuan, serta bagaimana membedakan pemahaman yang jernih dari pemikiran yang masih dipengaruhi kekeliruan.

Dari sinilah berkembang pembahasan mengenai Jati Diri, Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, cipta, rasa, karsa, kesadaran, dan laku hidup.

Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Sejati merupakan salah satu bagian penting dalam Uttamopadesa. Ia dipahami sebagai pemahaman yang bersumber dari hakikat panguripan dan menjadi pepadhang bagi manusia dalam mengenali kenyataan.

Sementara itu, Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk mendekati pemahaman mengenai kenyataan melalui pengenalan, penghayatan, pengalaman, pengujian, dan laku kehidupan.

Keduanya tidak bertentangan. Kawruh Sejati menjadi pepadhang, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan proses manusia dalam memahami dan menghayati kenyataan melalui kehidupan yang dijalaninya.

Dengan demikian, kawruh bukan sekadar informasi yang disimpan dalam pikiran. Sebuah kawruh akan memiliki arti apabila dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, memilih, dan bertindak.

Uttamopadesa sebagai Penuntun Laku.
Uttamopadesa tidak berhenti sebagai pembahasan filsafat. Nilai sebuah kawruh dapat dilihat dari pengaruhnya terhadap kehidupan.

Jika seseorang memahami pentingnya kejernihan cipta, ia perlu menjaga pikirannya.

Jika memahami pentingnya kebersihan rasa, ia perlu belajar mengenali dan mengendalikan gejolak batinnya.

Jika menyadari pentingnya karsa, ia perlu bertanggung jawab terhadap kehendak dan perbuatannya.

Dengan demikian, hubungan antara kawruh dan laku menjadi inti penting Uttamopadesa. Kawruh perlu dipahami, dihayati, kemudian diwujudkan melalui kehidupan. Laku yang diterapkankan secara sadar, diharapkan dapat membawa perubahan dalam diri.

Tujuannya bukan menjadikan manusia merasa paling mengetahui, melainkan membantu manusia semakin mampu memahami kehidupan, mengenali dirinya, mengendalikan diri, dan menjalani kehidupan secara lebih selaras.

Serat-Serat dalam Uttamopadesa.
Pemikiran Uttamopadesa kemudian dikembangkan melalui berbagai serat dan konsep. Di antaranya Nawa Pranataning Kawruh Sejati, Nawa Prabodha, Nawa Samadhi, Nawa Brata Wisesa, Nawa Pambening, serta berbagai kajian mengenai Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, cipta-rasa-karsa, dan laku hidup.

Serat-serat tersebut dapat dipandang sebagai bagian yang saling melengkapi dalam menjelaskan kerangka pemikiran yang lebih luas. Ada yang membahas prinsip kawruh, perkembangan kesadaran, perjalanan batin, pembentukan watak, maupun hubungan cipta, rasa, dan karsa.

Keseluruhannya diarahkan kepada tujuan yang sama: membantu manusia memahami panguripan dan membentuk dirinya melalui laku yang dilakukan secara sadar.

Inti Kawruh Uttamopadesa.
Uttamopadesa tidak mengukur kualitas manusia hanya dari banyaknya pengetahuan. Seseorang dapat memiliki pengetahuan luas, tetapi belum tentu kehidupan batinnya menjadi lebih wening.

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kawruh mempengaruhi kehidupan. Apabila kawruh membuat cipta semakin jernih, rasa semakin bersih, karsa semakin tertata, dan perilaku semakin baik, berarti kawruh tersebut telah menemukan tempatnya dalam kehidupan.

Karena itu, inti Uttamopadesa terletak pada hubungan antara kawruh dan laku. Manusia tidak cukup hanya mengetahui apa yang utama. Yang lebih penting adalah bagaimana pemahaman tersebut diwujudkan menjadi dasar kehidupan yang utama.

Penutup.
Kawruh Uttamopadesa merupakan kerangka filsafat kawruh yang dirumuskan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati. Pemikirannya membahas panguripan, jati diri, Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, kesadaran batin, serta pembentukan manusia melalui laku.

Uttamopadesa bukan ajaran kuno yang ditemukan kembali, bukan klaim terhadap warisan Majapahit, dan bukan agama. Ia merupakan rumusan pemikiran masa kini yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang perlu memahami kehidupan sekaligus membentuk dirinya.

Pada akhirnya, kawruh tidak dinilai dari seberapa banyak yang diketahui, tetapi dari seberapa jauh pengetahuan tersebut mampu menjernihkan cipta, membersihkan rasa, menata karsa, dan memperbaiki perilaku. Di situlah kawruh menemukan maknanya sebagai laku kehidupan.

FAQ - Kawruh Uttamopadesa.
1. Apa itu Kawruh Uttamopadesa?
Uttamopadesa adalah kerangka filsafat kawruh yang membahas panguripan, jati diri, Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, kesadaran batin, dan laku pembentukan manusia.

2. Siapa yang merumuskan Uttamopadesa?
Uttamopadesa dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati.

3. Apakah Uttamopadesa merupakan ajaran kuno?
Bukan. Uttamopadesa merupakan kerangka pemikiran yang dibuat dan dikembangkan pada masa kini.

4. Apakah Uttamopadesa berasal dari Majapahit?
Tidak. Tidak terdapat dasar dalam kerangka Uttamopadesa untuk menyatakan bahwa istilah tersebut berasal dari Majapahit.

5. Apakah Uttamopadesa sama dengan Paramopadesa?
Tidak. Keduanya merupakan istilah yang berbeda dan memiliki kedudukan serta konteks yang berbeda.

6. Apakah Uttamopadesa merupakan agama?
Tidak. Uttamopadesa dirumuskan sebagai kerangka filsafat kawruh dan laku kehidupan.

7. Apa tujuan Uttamopadesa?
Membantu manusia memahami panguripan dan dirinya sendiri, kemudian menerapkan pemahaman tersebut melalui laku yang sadar dan selaras.

8. Apa hubungan Uttamopadesa dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati merupakan bagian penting dalam Uttamopadesa dan dipahami sebagai pepadhang untuk mengenali hakikat panguripan dan kenyataan.

9. Mengapa cipta, rasa, dan karsa penting?
Karena ketiganya merupakan daya penting dalam kehidupan batin manusia yang perlu dijaga dan ditata agar pikiran jernih, rasa bersih, kehendak terarah, dan tindakan semakin selaras.

10. Apakah Uttamopadesa mengajarkan kekuatan gaib?
Tidak. Fokusnya adalah pembentukan manusia, pengolahan diri, kejernihan cipta, kebersihan rasa, keteraturan karsa, dan perubahan perilaku.

11. Apa inti Uttamopadesa?
Intinya adalah hubungan antara kawruh dan laku. Pengetahuan perlu dipahami, dihayati, lalu diwujudkan dalam kehidupan.

12. Apakah Uttamopadesa masih dapat dikembangkan?
Ya. Sebagai kerangka pemikiran, Uttamopadesa masih dapat diperjelas dan diperdalam dengan tetap menjaga prinsip dasar serta hubungan antarkonsepnya.
 

Komentar